Reporter : Syamsul Akbar
GENDING - Berawal dari lima petak kolam, Sholehudin (52) sukses membudidayakan ikan nila. Budidaya Nila yang dikembangkan warga Desa Gending Kecamatan Gending itu pun kini beromzet puluhan juta.
Sejak tahun 2010 silam, Sholehudin memulai usahanya dengan membudidayakan ikan nila. Ia memanfaatkan tambak yang sebelumnya digunakan budidaya ikan bandeng. Apalagi setelah budidaya bandeng kurang maksimal terutama di musim kemarau, ia semakin tekun memelihara nila.
“Dulunya saya menekuni budidaya bandeng, tetapi perkembangannya lama. Kemudian saya coba-coba ke budidaya ikan nila, ternyata perkembangannya sangat cepat. Akhirnya saya memutuskan tetap menggeluti budidaya ikan nila sampai sekarang,” ungkap pria asli Desa Pajurangan Kecamatan Gending ini.
Tergabung dalam Kelompok Keting, pria kelahiran Probolinggo, 4 Juni 1962 ini memulai usahanya dengan menebar 5 ribu benih ikan nilai di sebidang petak kolamnya. Awal menjalani usaha tersebut, ia mengeluarkan modal sebesar Rp 550 ribu untuk beli benih dan pakan ikan.
Ketika panen ia memperoleh ikan nila sebanyak 6 kuintal dengan harga saat itu Rp 12.000/kg. Dengan harga tersebut, ia memperoleh hasil penjualan sebanyak Rp 7.200.000. Setelah dikurangi modal awal sebesar Rp 550 ribu, keuntungan yang didapat mencapai Rp 6.650.000.
“Melihat hasilnya yang cukup menjanjikan itu, saya mencoba menebar benih sebanyak 15 ribu ekor ke sebidang petak kolam. Dengan asumsi menebar 5 ribu saja dapat banyak, mungkin dengan menebar 15 ribu, hasilnya akan lebih banyak lagi. Ternyata hasilnya tetap hanya sekitar 6 kuintal,” jelasnya.
Anak pertama dari lima bersaudara pasangan Sugiono dan Marsena ini menjelaskan, dari lima petak kolam yang dimilikinya, hanya tiga petak kolam saja yang dimanfaatkan untuk ditebari benih. “Dua petak kolam yang lain digunakan untuk tempat tanjar (penampungan sementara, Red,) ikan sebelum ditebar ke kolam,” terangnya.
Ayah tiga anak ini mengungkapkan, saat ini ia menebar benih sebanyak 15 ribu ekor di tiga petak kolamnya dengan harga sekitar Rp 1,5 juta. Dalam sekali siklus budidaya, ia menghabiskan pakan sebanyak 3 sak. Di mana per sak harganya mencapai Rp 170 ribu sehingga total harga pakannya mencapai Rp 510 ribu.
“Saya dapatkan benih umur 1,5 bulan dari dinas (Dinas Perikanan dan Kelautan,Red). Sebelum ditebar, benih itu ditanjar dulu selama sebulan. Setelah itu baru ditebar ke dalam kolam. Pemberian pakannya dilakukan dua kali sehari. Setelah lima bulan sudah bisa panen,” tegasnya.
Suami dari Samiati ini menjelaskan, ikan hasil panenya dibeli pedagang dari Mayangan Kota Probolinggo. Harganya bervariasi mulai Rp 12 ribu hingga Rp 16 ribu/kg, tergantung pada waktu panen dan ukuran ikannya. Biasanya di pasaran dijual seharga Rp 17 ribu per kilogram.
“Meskipun perkembangan budidaya ikan nila ini sangat cepat, tetapi tantangannya pada cuaca. Kalau musim kemarau, perkembangan ikan nila agak lambat. Tetapi kalau musim hujan, perkembangannya cukup bagus. Kalau musim kemarau, 6 bulan dari tebar baru bisa panen. Tetapi kalau musim hujan, umur 4 bulan saja dari tebar sudah bisa panen,” tambahnya.
Pria yang tidak tamat SMP ini mengaku, banyak memperoleh manfaat setelah dibina Dinas Perikanan dan Kelautan (Diskanla) Kabupaten Probolinggo. Sebab sebelumnya, ilmu budidaya ikan nila itu ia dapatkan secara otodidak.
Tetapi setelah ada pembinaan, ia mengetahui cara mengatur sirkulasi air, membedakan ikan besar dan kecil, membedakan ikan jantan dan betina. Bahkan ia pernah mengikuti beberapa pelatihan khusus budidaya perikanan.
“Setelah panen dan sebelum tebar benih lagi, saya mendapatkan ilmu untuk menaburi kolam dengan kapur supaya plankton bisa tumbuh. Sebelumnya saya tidak punya ilmu apa-apa,” akunya.
Sholehudin yang nyambi sebagai nelayan ini menambahkan, dirinya pernah kehabisan stok ikan. Di mana permintaan banyak dan harganya juga mahal. Tetapi ikan yang ada di kolamnya masih kecil.
Akhirnya ia hanya bisa pasrah. Sebab saat panen, harganya terkadang turun. Tetapi ia bersyukur, dari usaha budidaya ikan nila ini, bisa mencukupi seluruh kebutuhan keluarga.
“Dari usaha budidaya ikan nila ini saya bisa menabung untuk kebutuhan keluarga. Kalau dulu saya tidak bisa menabung, hanya cukup untuk dimakan bersama keluarga. Alhamdulillah, usaha budidaya ikan nila ini bisa menambah pendapatan keluarga,” pungkasnya.
Sementara Kepala Diskanla Dedy Isfandi melalui Kepala Bidang Budidaya Perikanan Hari Pur Sulistiono mengungkapkan, budidaya ikan nila ini merupakan salah satu upaya pemanfaatan lahan tambak yang kurang produktif, terutama pada tambak yang banyak air tawar. Sehingga Diskanla berupaya bagaimana memanfaatkan lahan tambak bisa produktif, salah satunya memanfaatkan budidaya ikan nila.
“Budidaya ikan nila bukanlah barang baru. Di pasar masyarakat mengenal ikan nila dengan ikan mujair. Potensi tambak di Kabupaten Probolinggo mencapai 2 ribu hektar. Tetapi tidak semuanya produktif. Budidaya ikan nila ini bisa berkembang dengan cepat dan dapat meningkatkan pendapatan masyarakat,” ungkapnya. (wan)
GENDING - Berawal dari lima petak kolam, Sholehudin (52) sukses membudidayakan ikan nila. Budidaya Nila yang dikembangkan warga Desa Gending Kecamatan Gending itu pun kini beromzet puluhan juta.
Sejak tahun 2010 silam, Sholehudin memulai usahanya dengan membudidayakan ikan nila. Ia memanfaatkan tambak yang sebelumnya digunakan budidaya ikan bandeng. Apalagi setelah budidaya bandeng kurang maksimal terutama di musim kemarau, ia semakin tekun memelihara nila.
“Dulunya saya menekuni budidaya bandeng, tetapi perkembangannya lama. Kemudian saya coba-coba ke budidaya ikan nila, ternyata perkembangannya sangat cepat. Akhirnya saya memutuskan tetap menggeluti budidaya ikan nila sampai sekarang,” ungkap pria asli Desa Pajurangan Kecamatan Gending ini.
Tergabung dalam Kelompok Keting, pria kelahiran Probolinggo, 4 Juni 1962 ini memulai usahanya dengan menebar 5 ribu benih ikan nilai di sebidang petak kolamnya. Awal menjalani usaha tersebut, ia mengeluarkan modal sebesar Rp 550 ribu untuk beli benih dan pakan ikan.
Ketika panen ia memperoleh ikan nila sebanyak 6 kuintal dengan harga saat itu Rp 12.000/kg. Dengan harga tersebut, ia memperoleh hasil penjualan sebanyak Rp 7.200.000. Setelah dikurangi modal awal sebesar Rp 550 ribu, keuntungan yang didapat mencapai Rp 6.650.000.
“Melihat hasilnya yang cukup menjanjikan itu, saya mencoba menebar benih sebanyak 15 ribu ekor ke sebidang petak kolam. Dengan asumsi menebar 5 ribu saja dapat banyak, mungkin dengan menebar 15 ribu, hasilnya akan lebih banyak lagi. Ternyata hasilnya tetap hanya sekitar 6 kuintal,” jelasnya.
Anak pertama dari lima bersaudara pasangan Sugiono dan Marsena ini menjelaskan, dari lima petak kolam yang dimilikinya, hanya tiga petak kolam saja yang dimanfaatkan untuk ditebari benih. “Dua petak kolam yang lain digunakan untuk tempat tanjar (penampungan sementara, Red,) ikan sebelum ditebar ke kolam,” terangnya.
Ayah tiga anak ini mengungkapkan, saat ini ia menebar benih sebanyak 15 ribu ekor di tiga petak kolamnya dengan harga sekitar Rp 1,5 juta. Dalam sekali siklus budidaya, ia menghabiskan pakan sebanyak 3 sak. Di mana per sak harganya mencapai Rp 170 ribu sehingga total harga pakannya mencapai Rp 510 ribu.
“Saya dapatkan benih umur 1,5 bulan dari dinas (Dinas Perikanan dan Kelautan,Red). Sebelum ditebar, benih itu ditanjar dulu selama sebulan. Setelah itu baru ditebar ke dalam kolam. Pemberian pakannya dilakukan dua kali sehari. Setelah lima bulan sudah bisa panen,” tegasnya.
Suami dari Samiati ini menjelaskan, ikan hasil panenya dibeli pedagang dari Mayangan Kota Probolinggo. Harganya bervariasi mulai Rp 12 ribu hingga Rp 16 ribu/kg, tergantung pada waktu panen dan ukuran ikannya. Biasanya di pasaran dijual seharga Rp 17 ribu per kilogram.
“Meskipun perkembangan budidaya ikan nila ini sangat cepat, tetapi tantangannya pada cuaca. Kalau musim kemarau, perkembangan ikan nila agak lambat. Tetapi kalau musim hujan, perkembangannya cukup bagus. Kalau musim kemarau, 6 bulan dari tebar baru bisa panen. Tetapi kalau musim hujan, umur 4 bulan saja dari tebar sudah bisa panen,” tambahnya.
Pria yang tidak tamat SMP ini mengaku, banyak memperoleh manfaat setelah dibina Dinas Perikanan dan Kelautan (Diskanla) Kabupaten Probolinggo. Sebab sebelumnya, ilmu budidaya ikan nila itu ia dapatkan secara otodidak.
Tetapi setelah ada pembinaan, ia mengetahui cara mengatur sirkulasi air, membedakan ikan besar dan kecil, membedakan ikan jantan dan betina. Bahkan ia pernah mengikuti beberapa pelatihan khusus budidaya perikanan.
“Setelah panen dan sebelum tebar benih lagi, saya mendapatkan ilmu untuk menaburi kolam dengan kapur supaya plankton bisa tumbuh. Sebelumnya saya tidak punya ilmu apa-apa,” akunya.
Sholehudin yang nyambi sebagai nelayan ini menambahkan, dirinya pernah kehabisan stok ikan. Di mana permintaan banyak dan harganya juga mahal. Tetapi ikan yang ada di kolamnya masih kecil.
Akhirnya ia hanya bisa pasrah. Sebab saat panen, harganya terkadang turun. Tetapi ia bersyukur, dari usaha budidaya ikan nila ini, bisa mencukupi seluruh kebutuhan keluarga.
“Dari usaha budidaya ikan nila ini saya bisa menabung untuk kebutuhan keluarga. Kalau dulu saya tidak bisa menabung, hanya cukup untuk dimakan bersama keluarga. Alhamdulillah, usaha budidaya ikan nila ini bisa menambah pendapatan keluarga,” pungkasnya.
Sementara Kepala Diskanla Dedy Isfandi melalui Kepala Bidang Budidaya Perikanan Hari Pur Sulistiono mengungkapkan, budidaya ikan nila ini merupakan salah satu upaya pemanfaatan lahan tambak yang kurang produktif, terutama pada tambak yang banyak air tawar. Sehingga Diskanla berupaya bagaimana memanfaatkan lahan tambak bisa produktif, salah satunya memanfaatkan budidaya ikan nila.
“Budidaya ikan nila bukanlah barang baru. Di pasar masyarakat mengenal ikan nila dengan ikan mujair. Potensi tambak di Kabupaten Probolinggo mencapai 2 ribu hektar. Tetapi tidak semuanya produktif. Budidaya ikan nila ini bisa berkembang dengan cepat dan dapat meningkatkan pendapatan masyarakat,” ungkapnya. (wan)
